SEJARAH GKI DENPASAR




Latar Belakang

Perkembangan perekonomian di Bali, krisis nasional multi-dimensi serta berbagai kerusuhan  yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia khususnya disekitar tahun 1997-1998; telah melatar belakangi perpindahan sejumlah keluarga anggota jemaat GKI dalam lingkup Sinode Wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat ke Denpasar Bali.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, ternyata mereka juga merindukan suatu kesempatan bersekutu dan beribadah bersama dalam nuansa dan naungan ajaran GKI.

Seiring dengan kenyataan tersebut, adalah idealisme Pdt. Em. Abdi Widhyadi (berbekal pengalamannya dari penjemaatan GKI di Batam);
Yang setelah melihat sepintas budaya dan tradisi masyarakat Bali, ingin menghadirkan GKI di Bali dengan konsep “Pantai Damai”.Suatu konsep yang isinya akan menantang kesanggupan seluruh warga GKI; yakni jikalau kelak persekutuannya mau hadir di Bali haruslah mampu berperan dan berpenampilan beda dari pada GKI dimanapun saja.

 

“Pantai Damai”

Selain GKI harus dapat menjadi pusat perjumpaan budaya, juga dapat menjadi wadah bagi orang yang mau berkontemplasi dan bermeditasi, bukan hanya untuk warga GKI dari Indonesia belaka, tetapi bagi siapa saja yang mau mencari pendamaian jiwa.

Sebab itu GKI di Bali juga harus bisa berada dan terwujud di suatu tempat yang dekat pantai, dilembah perbukitan, dekat persawahan dan jika perlu dekat pegunungan. Sebuah tempat yang menyatukan, suatu wadah perjumpaan dari alam, dan jikalau ada juga manusia yang berada disana, maka terjadilah secara utuh perjumpaan seluruh ciptaan Allah.

 

“Paguyuban Warga GKI”

Memperhatikan kerinduan anggota jemaat dari pelbagai GKI yang sedang bermukim di Bali, serta merespon gagasan “Pantai Damai” tersebut; maka diawal tahun 1999 dengan pimpinan Tuhan Yesus Kristus, Majelis Jemaat GKI Residen Sudirman Surabaya (GKI Ressud) berinisiatif dan menyatakan komitmennya untuk mewujudkan kehadiran jemaaat GKI di Bali, yang nantinya juga diharapkan dapatlah berperan menjadi mandataris GKI dalam melaksanakan misi-misi itu. Ditentukanlah kota Denpasar sebagai tempat pusat kegiatan dari pelayanan tersebut. Penatua Sudibiah M.P diutus bersama Pdt. Em. Abdi Widhyadi untuk bertemu dengan Bp. Leo Emmas (anggota GKI Ressud yang menetap di Denpasar). Dalam rangka penjajakan dan peninjauan di Bali. Pada tanggal 27 Februari 1999 terjadilah pertemuan para simpatisan GKI di rumah Bp. Leo Emmas. Pada saat itu pulalah terbentuk Paguyuban Warga GKI Di Bali yang kemudian ditandai dengan kebaktian rumah tangga perdana di rumah tersebut pada hari Jumat, 12 Maret 1999 dihadiri 23 warga GKI.

 

“Pos PKP”

Pertemuan perdana itu membuahkan pertemuan kedua di rumah Keluarga Yopie Moningka berupa kebaktian pengucapan syukur HUT pernikahannya tanggal 8 April 1999; pada saat itulah dibentuk pengurus Paguyuban Warga GKI di Denpasar.
Rapat pertama diadakan di rumah Bapak Angky di jalan Gatot Subroto 264B Denpasar, yang dilanjutkan dengan rapat kedua pada tanggal 17 April di rumah Bapak Toni (Alm) di jalan Hayam Wuruk 98D, sebuah toko milik PT. Citra Mandiri.
Melalui Bapak Toni (Alm) salah seorang pengurus inilah, Paguyuban Warga GKI di Denpasar mendapat pinjaman dai Bapak Indrijo Laksmono tempat untuk beribadah mingguan; dilantai dua dari toko PT. Citra Mandiri tersebut. Setelah ruangan di lantai dua ruko itu direnovasi (nyaman sebagai tempat ibadah), maka pada tanggal 22 April 1999 jam 19.00 wita, dilakukanlah Kebaktian Pembukaan sarana ibadah tersebut yang dihadiri oleh 30 warga GKI

Selanjutnya sejak tanggal 9 Mei 1999 diselenggarakan Kebaktian Hari Minggu secara teratur di tempat ini, sementara segala kegiatanpun diberkatiNya hingga berjalan lancar dan gencar. Nama Paguyuban Warga GKI di Bali lambat laun pudar dan berganti dengan Pos Persekutuan, Kesaksian, Pelayanan Gereja Kristen Indonesia Residen Sudirman.

Majelis Jemaat GKI Residen Sudirman kemudian mengaktifkan tempat ini sebagai Pos PKPnya di Denpasar – Bali dengan menugaskan penggagasnya yakni: Pdt. (Em) Abdi Widhyadi sebagai tenaga perintis serta pembinanya. Sebagai koordinator pengurus Pos PKP  di Denpasar ini diangkatlah Bapak Budi Harianto dan sebagai Majelis setempat yang mewakili gereja induknya ditugaskanlah Ibu Pnt. Mery dan Bapak Pnt. Leo Emmas.

Sejalan dengan waktu setahun, ruang berkapasitas maksimum 40 orang ini semakin tidak mampu menampung pertambahan jumlah pengunjung kebaktian. Sehingga pada tanggal 4 Juni 2000, kebaktian hari Minggu dipindahkan ke ruang serba guna di Gedung Grapari Telkomsel lantai 3, jalan Raya Puputan, Renon – Denpasar ; yang berdaya tampung lebih besar dan mampu menampung hadirin yang rata-rata setiap Minggu berjumlah 70 orang.

Di gedung inilah kebaktian Anak dan Remaja mulai dapat dilaksanakan; talenta-talenta yang dimiliki jemaat yang tekun hadir; pun mulai tampak pula. Kerjasama sambil saling melayani dengan gereja-gereja seazas lainnya di Bali mulai terjalin dan kehadiran GKI di Denpasar pun mulai diketahui oleh lebih banyak mantan anggota GKI yang tinggal di Bali.

Pengangkatan tiga Majelis baru guna peningkatan pelayanan jemaat juga dilakukan disini. Adapun penatua yang diteguhkan adalah Pnt. Djinaldi Gosana, Pnt. Gunawan Santoso dan Pnt. Naniek W Moningka.
Namun sayang, belumlah genap setahun sewa tempat tersebut tidak dapat diperpanjang, maka Pos PKP terpaksa harus dipindahkan lagi ke lantai 2 sebuah gedung kontrakan; yang kini dikenal sebagai gedung GKI, di jalan Raya Puputan 108 (kawasan Nitimandala – Renon) Denpasar.
Semenjak tanggal 6 Mei 2001 hingga kini, Kebaktian Minggu serta kegiatan-kegiatan lainnya dilaksanakan dengan penuh suka-cita di tempat yang serbaguna ini.


Gambar 1.1 Peneguhan Penatua Pos PKP GKI Denpasar

Mengingat ruang serbaguna yang akan digunakan sekarang tersebut masih berstatus kontrak, dan belum jelas sampai kapan bisa dipergunakan, maka ada sebuah kebutuhan yang cukup mendesak untuk mengupayakan agar Pos PKP ,GKI di Denpasar memiliki sendiri sebuah fasilitas yang mampu menampung semua potensi kegiatannya, baik sekarang maupun di masa depan.

“GKI FCC”

Untuk menunjang baik pertumbuhan jemaat, kebaktian maupun dalam mewujudkan “Pantai Damai” pada akhirnya; maka dibentuklah Panitia Pembangunan Gedung Gereja (PPGG) yang berpusat di Surabaya, serta didukung oleh anggota jemaat dari GKI: Emaus, Merisi Indah, Manyar, Kutisari Indah, Darmo Satelit, GMS dan GKI Ressud sendiri.


Gambar 1.2 PPGG (Panitia Pembangunan Gedung gereja)

Adapun harapan yang ingin dicapai terlebih dahulu dari PPGG ini adalah sebuah “GKI – Fellowship dan Community Care Center” (GKI FCC) yakni suatu sarana Pusat Persekutuan dan Kepedulian kepada Masyarakat yang dikelola oleh Gereja Kristen Indonesia.

Perlu dicatat, bahwa sebenarnya sejak awal perintisannya, Majelis Jemaat GKI Residen Sudirman sangat berharap dan telah mengusulkan agar “Proyek Bali” ini bukan hanya memiliki sebuah jemaat setempat, melainkan dapat menjadi milik bersama dan untuk dikembangkan bersama pula oleh seluruh jemaat Gereja Kristen Indonesia, baik yang berada dalam lingkup Sinode (Wilayah) Jawa Barat, Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Sebagaimana teruraikan pada “Latar Belakang”, adalah dua alasan utama yang melandasi harapan dan usulan tersebut diatas yakni:

  1. Para anggota jemaat yang dilayani di Denpasar ternyata berasal dari berbagi jemaat GKI dari ketiga sinode wilayah
  2. Visi keberadaan dan pelayanan GKI di Denpasar tidak hanya terbatas pada melahirkan sebuah jemaat baru GKI, tetapi seyogyanya dikembangkan sebagai wadah bagi perwujudan kepedulian warga GKI kepada masyarakat, bangsa dan negara Indonesia, terutama di sekitar Denpasar, Bali.

 

“Bakal Jemaat”

Setelah melalui beberapa kali pertemuan antara GKI Residen Sudirman dengan Klasis Banyuwangi, diputuskanlah dalam sidang Kalis Banyuwangi bahwa dengan rahmat Tuhan Yesus Kristus; maka pada tanggal 10 Oktober 2001, Pos PKP GKI Residen Sudirman di Denpasar diresmikan menjadi Bakal Jemaat GKI Residen Sudirman di Denpasar.

Bakal Jemaat (Bajem) yang baru lahir ini terus termotivasi, baik oleh pendeta pembinanya maupun oleh induknya: Majelis Jemaat GKI Ressud. Kian hari kian dilatih untuk terus mandiri sehingga kemudian pengelolaan persekutuan, kegiatan-kegiatan dan pengelolaan keuangannya pun akhirnya diotonomkan penuh kepada Panitia Bajem Denpasar, untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatunya setara dengan jemaat yang telah dewasa.

Gambar 1.3 Kebaktian Pembajeman GKI Residen Sudirman Bajem Denpasar

 

Pada saat itulah Panitia dan para aktivis di Bakal Jemaat GKI Denpasar ini mencanangkan harapannya bersama Pdt. Em. Abdi Widhyadi selaku perintis; bahwa jika Tuhan berkenan, Bakal Jemaat ini dapat menjadi jemaat yang dewasa dan mandiri tidak lebih dari dua tahun setelah pembajeman ini.

 

“Pelembagaan GKI Denpasar”


Gambar 1.4 Majelis GKI Denpasar

Ujian dan tantangan-tantangan yang harus dihadapi Bajem GKI di Denpasar pun makin bervariasi dan kian meningkat seiring dengan pemberitahuan Majelis GKI Residen Sudriman (yang disampaikannya secara resmi setelah hari Pembajeman tersebut); bawasannya masa penugasan Pdt. Em. Abdi Widhyadi akan berakhir setelah tiga tahun penuh mengabdi dan berkarya di Bali, tepatnya pada tanggal 30 September 2002.

Walaupun belum ada pendeta yang ditunjuk Majelis GKI Ressud untuk menggantikan peran Pdt. Em. Abdi Widhyadi; Panitia Bajem GKI di Denpasar bersama warganya tetap tegar melangkah maju, percaya dan terus berkarya demi keinginannya tumbuh menjadi dewasa, menuju jemaat yang mandiri. Kebaktian Minggu rata-rata dihadiri 120 warga GKI.

Setelah beberap kali Panitia Bajem berkonsultasi dengan induknya: GKI Ressud – Surabaya, tentang potensi kemandirian GKI di Denpasar, dan ditindaklanjuti dengan Pelawatan Khusus-nya BPMK Banyuwangi pda tanggal 30 Juli 2002.
Persidangan Klasis Banyuwangi Khusus tanggal 10-11 September 2002 di YWI Batu, menghasilkan keputusannya untuk mendewasakan Bakal Jemaat GKI Residen Sudriman Surabaya di Denpasar, dan melembagakannya menjadi Gereja Kristen Indonesia di Denpasar dalam waktu enam bulan semenjak keputusan ini ditetapkan.

Puji Tuhan, Gereja Kristen Indonesia di Denpasar kini terwujud dan menjadi jemaat dewasa yang ditetapkan dalam Kebaktian Pelembagaan Jemaat pada 20 Maret 2003.


Copyright©2013 GKI